Diselenggarakan Oleh :
logo logo logo

Pembicara Kunci

img

Status dan Ancaman Ekosistem Pesisir di Indonesia dan Peran Konservasi dalam perlindungan Keanekaragaman Hayati Laut

Tanggal : Selasa, 9 Mei 2017

Waktu : 09:00 – 09:30 WIB

Pembicara : Udhi Eko Hernawan - Staf Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI)


Wilayah geografis yang luas dengan mozaik ribuan pulau yang membentuk garis pantai sepanjang lebih dari 90.000 km membuat Indonesia kaya dengan ekosistem pesisir, terutama terumbu karang, padang lamun, dan mangrove. Ekosistem pesisir ini memberikan jasa yang besar bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Namun demikian, monitoring yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Oseanografi menunjukkan bahwa sebagian besar terumbu karang dan padang lamun di Indonesia berada dalam tekanan kehilangan habitat (habitat loss). Pemanfaatan sumberdaya di wilayah pesisir, ditambah dengan perubahan iklim global, mengancam kelestarian ekosistem pesisir dan sumber daya hayati yang hidup di dalamnya. Pemulihan kondisi dan perlindungan habitat diperlukan untuk menjaga pesisir dan laut Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia sekaligus sumber kehidupan untuk jutaan orang.


Tentang Pembicara

Udhi Eko Hernawan merupakan pria kelahiran Pati, 6 Mei 1982. Ia telah menempuh pendidikan sarjana di bidang Biologi di Universitas Sebelas Maret (1999-2003), master di bidang Biologi Laut di Universitas Groningen Nijenborgh 4 (2010 – 2012), dan doktor di bidang Ekologi Laut di Universitas Edith-Cowan (2013 – 2016). Karirnya dimulai sejak 2006 dan hingga sekarang menjabat sebagai staff peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI)


Informasi lebih lengkap tentang Udhi Eko Hernawan dapat mengunjungi:
https://scholar.google.com.au/citations?user=i_yquHMAAAAJ&hl=en

img

Pembelajaran Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Daerah di Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat

Tanggal : Selasa, 9 Mei 2017

Waktu : 09:30 – 10:00 WIB

Pembicara : Dasril, S.Sos, Kepala Dinas Perikanan Kota Pariaman


Kota Pariaman, berada pada pesisir Barat Pulau Sumatera, mempunyai panjang garis pantai 12,73 Km yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi seperti, hamparan pantai yang landai disepanjang pantai dan pasir putih di pulau-pulau kecil, ekosistem terumbu karang, mangrove, habitat penyu, dll. Sebagai upaya pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, Pemerintah Kota Pariaman telah menetapkan beberapa kebijakan tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tersebut meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu potensi kawasan ini adalah sebagai destinasi wisata pesisir dan pulau-pulau kecil baik untuk wisatawan lokal maupun internasional. Sektor wisata telah membuka lapangan kerja kurang lebih bagi 80 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah pengunjung perbulannya kurang lebih 75.000 orang. Keuntungan dari sektor wisata diperkirakan mencapat Rp 86.920.000.000/tahun. Oleh karena itu, untuk melindungi kawasan agar tetap bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata dan juga agar sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Pariaman, maka Kota Pariaman dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Kota Pariaman seluas 11.525,89 Ha berdasarkan Keputusan Walikota Pariaman Nomor 334/523/2010.


Tentang Pembicara

--


img

Implementasi Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dengan Memanfaatkan CSR di Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan Kabupaten Sukabumi

Tanggal : Selasa, 9 Mei 2017

Waktu : 14:00 – 14:30 WIB

Pembicara : Ahman Kurniawan, Kepala Balai Pengawasan dan Konservasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Wilayah Selatan Pangumbahan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat


Lingkungan laut, pesisir dan pulau-pulau kecil kondisinya saat ini sudah cukup memprihatinkan. Telah terjadi banyak kerusakan ekosistem laut dan pesisir akibat ulah dan keserakahan manusia yang hanya memikirkan dan meraih keuntungan sesaat untuk kepentingan dirinya sendiri. Rusaknya ekosistem di laut dan pesisir akan sangat merugikan masyarakat yang terdampak langsung, juga berimplikasi pada ekosistem di darat yang dapat mengganggu siklus kehidupan dan pada akhirnya merugikan umat manusia. Pengelolaan Konservasi Perairan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang efektif adalah solusi untuk mencegah dan menanggulangi rusaknya ekosistem laut dan pesisir. Pengelolaan Konservasi yang efektif adalah dengan melaksanakan gerakan konservasi berbasis masyarakat dengan menggunakan strategi kemitraan. Pemerintah sebaiknya lebih mengoptimalkan diri selaku regulator dan fasilitator dan dalam implementasinya menerapkan kemitraan antara Pemerintah dengan masyarakat luas (Kelompok Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga Pendidikan dan Dunia Usaha) sesuai dengan proporsinya masing-masing.


Tentang Pembicara

Lahir di Jakarta tanggal 1 Oktober 1967. Tamat dari Sekolah Usaha Perikanan Menengah Bogor pada tahun 1986, kemudian bekerja pada Dinas Perikanan Kabupaten Tabanan Bali. Tahun 2000 mendapatkan gelar Sarjana Perikanan dari Universitas Warmadewa Denpasar Bali setelah mengikuti kuliah selama 4,5 tahun. Pada tahun 2010 pindah ke Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi Jawa Barat selaku Kepala Seksi Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Budidaya. Pada bulan Juni 2012 dimutasi untuk menduduki jabatan Kepala UPTD Konservasi Penyu Pangumbahan. Kemudian sejak Januari 2017 hingga saat ini menjadi Kepala Balai Pengawasan dan Konservasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Wilayah Selatan Pangumbahan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat.


img

MPAs for Fisheries: From Policy To Implementation

Tanggal : Rabu, 10 Mei 2017

Waktu : 08:30 - 09:00 WIB

Pembicara : Peter Mumby, University of Queensland


MPAs have diversified from a conservation tool into a means of helping managing and rebuilding fisheries. Their application is particularly important in areas where illegal and unregulated fisheries predominate, including many tropical coasts. But the design of MPAs – or more specifically no-take reserves (core zones) – differs between conservation action and fisheries management. Here I begin by considering overall policy questions concerning the use of reserves to rebuild and sustain fisheries. I argue that 20%-30% of habitat can be set aside to provide optimal support for rebuilding fisheries. Moreover, I show that adequate resourcing of reserves (e.g., staff, enforcement) is vital to obtain favourable outcomes for people. Once an MPA policy has been established I then describe how it can be designed using state-of-the-art data on the connectivity fish populations via ocean currents. This is illustrated with examples from Indonesia. I close by discussing some of the key needs to advance MPA implementation.


Tentang Pembicara

Peter Mumby began his career designing MPAs in Belize and realized how little science was available to guide the process. He then switched into a research career with the goal of providing solutions to common management challenges. He obtained his PhD in 1998 from the University of Sheffield (UK). He then moved to the Universities of Newcastle and eventually Exeter on NERC and Royal Society research fellowships. Peter was promoted to Professor in 2005. In 2010, the call of better weather led Peter to move to the University of Queensland and take up a prestigious ARC Laureate Fellowship. Peter’s research group look at questions concerning the ecology of coral reefs, the resilience of ecosystems, the design and functioning of MPAs, the connectivity of ecosystems, and the incorporation of ecosystem services into management design. Peter has published >230 journal articles, is a Pew Fellow in Marine Conservation, and was the inaugural mid-career award winner for contributions to coral reef science from the International Society for Reef Studies. He is happiest with a camera on a coral reef and at a depth of around 10 m.

img

Kawasan Konservasi Perairan: Investasi Cerdas untuk Perlindungan Keanekaragaman Hayati Laut dan Membangun Perikanan Indonesia

Tanggal : Rabu, 10 Mei 2017

Waktu : 14:45 – 15:15 WIB

Pembicara : Wawan Ridwan, Direktur Coral Triangle Program WWF-Indonesia


Laut Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia, namun saat ini ancaman terhadap habitat pesisir masih terus terjadi secara intensif dan menyebar. Hampir seluruh (95%) ekosistem terumbu karang Indonesia terancam oleh berbagai kegiatan antropogenik dan perubahan iklim, dan bahkan 35% diantaranya memiliki tingkat ancaman yang tinggi atau sangat tinggi (Burke, et al., 2012). Sebagai solusinya, WWF-Indonesia mendorongkan konsep pengelolaan “Kawasan Konservasi Perairan untuk Perikanan Berkelanjutan” untuk diadaptasi oleh pemerintah nasional, akademisi, mitra, pelaku bisnis dan kelompok masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati laut dan mendorong perikanan berkelanjutan di Indonesia. Konsep ini dibangun berdasarkan berbagai kajian ilmiah, serta pembelajaran dan cerita sukses dari kegiatan konservasi perairan yang dilakukan oleh WWF-Indonesia dalam beberapa dekade belakangan. Terdapat delapan pendekatan saling terintegrasi yang harus diimplementasikan secara menyeluruh, yaitu: (1) mengoptimalkan desain Kawasan Konservasi Perairan (KKP), (2) membangun jejaring KKP, (3) menerapkan strategi pemanfaatan perikanan di setiap KKP, (4) memberikan hak eksklusif perikanan untuk masyarakat dan nelayan lokal, (5) mengimplementasikan praktek pengelolaan yang lebih baik, (6) membangun mekanisme pendanaan berkelanjutan, (7) mendorong transformasi perikanan, dan (8) melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Penerapan delapan pendekatan ini merupakan investasi cerdas dan efektif untuk melindungi ekosistem laut sekaligus mengelola stok perikanan, dengan biaya pengelolaan yang minimal. Perikanan yang sehat dan berkelanjutan bisa memutar roda perekonomian nasional dan menjamin ketahanan pangan laut untuk sebagian besar masyarakat Indonesia.


Tentang Pembicara

Wawan Ridwan merupakan lulusan Fakultas Kehutanan IPB (1981) dan langsung meniti karir sebagai staff perencanaan di TN Ujung Kulon. Selanjutnya selama 18 tahun, Wawan berkecimpung di pemerintahan, yaitu sebagai Kepala Seksi Rencana Pengelolaan Konservasi Sumber Daya Alam Jangka Menengah (1983), Kepala TN Komodo (1987 – 1993), TN Kerinci Seblat (1993), TN Bromo Tengger Semeru (1997 – 1999), dan terakhir sebagai Direktur Wisata Alam di Jakarta (1999-2001). Kiprah Wawan di WWF-Indonesia dimulai pada Tahun 2001 sebagai Project Leader Propossed New Protected Areas of Sebuku Sembakung; kemudian Project Leader TN Betung Kerihun (2002); dan Project Leader TN Laut Wakatobi (2003). Tahun 2007 sampai saat ini, Wawan dipromosikan sebagai Direktur Marine and Fisheries Program WWF-Indonesia yang sejak Tahun 2014 berganti nama menjadi Direktur Coral Triangle. Tanggung jawab Wawan adalah mengembangkan program kelautan dan perikanan WWF-Indonesia dengan mengacu kepada WWF Global Marine Strategy dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Pemerintah Indonesia dalam sektor kelautan dan perikanan.


img

Kebijakan Konservasi Perairan untuk Perikanan Berkelanjutan Sebagai Salah Satu Pilar Pembangunan Perikanan di Indonesia

Tanggal : Rabu, 10 Mei 2017

Waktu : 15:15 – 15:45 WIB

Pembicara : Brahmantya Satyamurti Poerwadi, Direktur Jenderal Perencanaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan


Laut dan perairan Indonesia selama ini telah menjadi bagian utama dari sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Laut merupakan 2/3 tutupan wilayah tanah air Indonesia. Laut dan perairan telah menyediakan sumberdaya dan sarana untuk memenuhi kebutuhan pangan, transportasi, rekreasi, dan bahkan religi. Secara global masyarakat dunia juga memberikan perhatian dan komitmen yang sangat kuat pada upaya keberlanjutan pembangunan di laut dan konservasi keanekaragaman hayatinya. The big five dari kesepakatan konservasi keanekaragaman hayati tersebut adalah Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna terancam punah (Cites),Konvensi perlindungan ekosistem lahan basah (Ramsar), Konvensi warisan dunia (World Heritage Convention), dan Konvensi Spesies Migrasi (CMS). Secara spesifik target-target internasional juga sudah ditetapkan seperti target perlindungan 10% perairan laut sebagai kawasan konservasi dan menurunnya trend kepunahan spesies. Untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan, sumberdaya, ruang, serta menghadapi perubahan iklim sebagaimana kondisi tersebut di atas, maka terdapat isu besar dalam konteks pembangunan maritim, kelautan, dan perikanan secara nasional dan global, yaitu menjaga keseimbangan antara tiga kepentingan, yaitu: Konservasi keanekaragaman hayati perairan; Pembangunan perikanan tangkap dan budidaya berkelanjutan; dan Pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.


Tentang Pembicara

Brahmantya Satyamurti Poerwadi menjabat sebagai Direktur Jenderal Perencanaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 17 Maret 2016. Pria kelahiran Surabaya, 11 Agustus 1975 ini telah menempuh pendidikan tingkat sarjana dengan jurusan Teknis Industri di Institut Teknologi Sepuluh November. Setelah lulus pada tahun 2003, Ia menjabat sebagai Country Manager di PT. Switchlab Indonesia pada tahun 2006 – 2008, kemudian berhijrah ke PT. Pertamina selama 8 tahun sebagai Account & Marketing Executive Aviation (2008 – 2012), Assistant Manager Overseas Aviation (2012 – 2014), dan Sr. Account & Marketing Executive Aviation (2014 – 2016).